ibumibum
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh..
Dirgahayu Indonesia ke 68, semoga semakin jaya dan tidak hanya diam di jalurnya.
Tetap bergerak, maju, berinovasi, mengikuti perkembangan, dan tetap gigih mengakulturasi budaya dengan sebaik-baiknya akulturasi.

Ya, pesan ini kurang tepat jika disampaikan ke bumi Indonesia, mungkin lebih cocok untuk para pemuda dan penggerak bangsa.

Pada hari ini, saya sering sekali membaca, mengobrol, dan bertukar-fikiran dengan teman-teman yang menyandingkan Ir. H. Jokowi dengan mantan bangku milik Kusno Sosrodihardjo atau  Dr. Ir. Sukarno, mungkin karena hari ini bertepatan dengan hari kemerdekaan.

Menurut opini teman-teman, Ir. H. Jokowi merupakan orang yang paling pantas untuk memimpin Negara Indonesia tahun 2014-2019. Semua orang boleh beropini, bukan? Berikut opini saya...

Saya mengakui kekaguman saya dengan gaya kepemimpinan Jokowi. Karena, selama yang saya ketahui saat ini, belum ada pemimpin yang sering dan berani mengambil keputusan yang out of the box, seperti B.J. Habibie dengan kemerdekaan pers, Dahlan Iskan dengan listrik pra bayar, dan Jusuf Kalla dengan konversi minyak tanah ke gas. Selama ini pula, belum ada pemimpin yang setiap diliput wartawan, tidak pernah ada di ruang kerja nya karena sedang sibuk blusukan ke daerah-daerah yang dipimpinnya. Belum pernah juga ada pemimpin yang memajang APBD di setiap kelurahan demi mewujudkan kepemimpinan yang transparan. Belum pernah ada pemimpin tak berbadan subur, yang menyukai lagu rock atau metallica. Belum pernah ada pemimpin yang melakukan kampanye dari hasil dana penjualan baju kotak-kotak, hingga baju nya menjadi trend baju kotak-kotak ala dirinya.

Namun, dibalik semua itu, saya juga menemukan hal-hal yang sedikit mengganjal, yang mungkin dapat dihindari sebelumnya demi efisiensi kepemimpinan (saya memang belum paham dan pantas menggunakan kata efisiensi, tapi hanya ini perbendaharaan kata yang saya rasa cukup mewakili maksud saya).

Menurut saya, Pak Joko Widodo, sering mengambil keputusan yang out of the box, tapi masih memiliki analisa dan survei yang masih lemah. Contohnya saja KJS, KSP, dan relokasi PKL Tenabang yang masih membingungkan karena syarat mengikat yang terlalu mudah untuk mendapatkannya. Pak Jokowi pun tidak segan untuk memberikan bantuan sembako dan uang dari hasil penelusuran blusukan, tapi, satu hal yang pasti akan berdampak kedepannya adalah mental rakyat yang hanya siap menerima tanpa usaha, atau biasa disebut dengan (maaf) mental pengemis. Jadi bisa saja, jika hal ini dibiarkan, suatu saat nanti akan ada semboyan, "Ah, kan ada Jokowi..", yaah, tapi ini kan hanya "bisa-saja". Kemudian, efek transparansi kepemimpinan yang dilakukan oleh Pak Jokowi, sepertinya berpengaruh juga terhadap cara kerja Pak Jokowi  sendiri. Beliau terlihat kurang percaya pada bawahan, sehingga terlalu sering melakukan kontrol ke lapangan saat ada proyek atau pekerjaan, yang mana mungkin lebih baik jika kontrol dilakukan setelah suatu proyek selesai dilakukan atau ketika satu sub-bagian proyek selesai dilakukan, jika tidak sesuai dengan arahan sebelumnya, beliau bisa saja melakukan revisi atau mungkin pemecatan terhadap pembelot arahan jika diperlukan. Kecuali, jika beliau menggunakan proses pembangunan proyek super cepat dengan model pengerjaan Rapid Application Development, hal itu harus dimaklumi, tapi alangkah baiknya jika kita tidak melupakan kekurangan dari model pengerjaan itu juga, hehe. Dan satu hal lagi, media massa yang terlalu mengagungkan keputusan dan gerak-gerik Jokowi, bisa membahayakan dirinya dalam pengambilan keputusan selanjutnya. Hmm, tapi mungkin ini hanya masalah dari segi psikologisnya saja. Mudah-mudahan Bapak Jokowi telah mengantisipasi hal ini.

Tidak menutup kemungkinan untuk Pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia selanjutnya. Tapi, saya hanya merasa tergelitik untuk menyampaikan sekelumit pemikiran saya yang mungkin sudah terpikirkan oleh beberapa orang sebelumnya. Hal ini karena saya peduli dengan para penggerak bangsa. Maka dari itu, saya minta maaf jika yang saya sampaikan terlalu menyudutkan dan "sebut merk". Jujur, saya hanya ingin menyampaikan opini dari pemudi Indonesia yang pengetahuan dan pemahamannya saja belum cukup. Tapi inilah pemikiran saya, tolong jangan dihakimi, saya hanya minta dipahami. Sekali lagi saya mohon maaf..
Dirgahayu Indonesia-ku.
Wassalam :)
0 Responses

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar, tapi yang sopan yaa, makasih :)