ibumibum
Sabtu, 18 Juni 2011. Hari ini, satu-satunya wanita yang mau menyerahkan rahimnya untuk menampung seorang anak yang sangat bandel telah berhasil melewati tahun-tahun beratnya.
"Selamat yaa 'Amabum' (panggilan sayang untuk Sang Wanita khusus dari anak bandelnya ini), kerutan di pipi, sekitar mata dan dahi pasti juga akan semakin bertambah.", pikir anak ini dalam hatinya. Yapp, Mama nya ulang tahun! Ia mau semua orang yang ia kenal, ikut berpartisipasi dalam bertambah bijaknya Sang Wanita pujaan hatinya ini, wanita paling kuat yang pernah ia temui. Yang Ia mau, semua orang turut memberikan doa untuk keberhasilan Sang Mama di tahun-tahun ke depan, serta memberikan bertubi-tubi pujian agar beliau sadar betapa indah dirinya di mata sekitar.

Dari sekitar 2 bulan yang lalu, anak ini sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan agar tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dan hasilnya, hingga hari 'H' ulang tahun Sang Mama, si anak tetap saja tidak mendapatkan ide tentang apa yang harus dilakukannya. Hasilnya nihil.

Dan, di pagi hari ulang tahun Sang Mama, si anak membuka jejaring sosial jitu di era itu, 'Facebook'. Ia melihat sudah banyak kerabat Mama nya yang mengucapkan selamat kepada beliau. Si anak berpikir, "Ternyata, selain terkenal di negeri orang, mama saya tetap terkenal dan diingat di negerinya sendiri, hahaha". Sementara si anak membaca ucapan selamat untuk Mama nya, si anak merasakan bahwa Sang Mama tercinta pasti akan merasa sedih ketika beliau tau bahwa dirinya belum mendapatkan ucapan dari anak yang telah dilahirkannya. Hanya satu harapan Si Anak, agar Sang Mama tidak menganggap bahwa anak nya ini telah  melupakan dirinya.

Si Anak berfikir sejenak, "Apa yang harus aku lakukan, agar tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ya? hmmm". Akhirnya, ia memutuskan untuk memberikan kejutan kepada Mama nya, sebagaimana saat Mamanya berada di dekatnya, melalui bantuan Papa pastinyaa, hehehe

Si anak berfikir keras, apa yang terakhir kali ia lakukan saat Sang Mama berulang tahun dan berada di dekatnya. Setelah beberapa waktu berlalu, si anak belum bisa mengingat satu hal pun tentang Ia dan Mama nya di peringatan hari lahir Sang Mama. Semakin keras ia berfikir, semakin sakit kepalanya dan semakin ber-air pula matanya. Ia bingung, ada apa dengan matanya? Yang salah ini, matanya atau hatinya?

Setelah lama berfikir, ia akhirnya menyadari alasan mengapa Ia tidak bisa mengingat satu hal pun tentang Ia dan Mama nya itu. "Mama ga pernah ulang tahun deket aku ya? Pantesan ga ada gambaran sedikitpun", gumamnya. Dengan menyadari hal itu, maka ia semakin merasakan sedih, sedih yang berlarut, hingga kehilangan kontrol, karena Ia telah gagal memberikan hadiah terbaik tahun ini untuk mamanya.

Potongan sms yang telah terketik untuk memberikan komando ke Sang Papa pun gagal dikirimkan, karena memang ia tidak memiliki apa-apa untuk dilakukan. Ia sangat menyesali kenapa ia memutuskan untuk tidak mengucapkan pertama kali, agar ia tetap menjadi yang pertama di daftar inbox pada tanggal 18 Juni.

Tetapi, untungnya si anak cepat sadar. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu sedih. Walaupun ia bukan yang mengucapkan pertama kali, ia tetap tau bahwa ia selalu menjadi yang pertama di hati Mama nya. Ia tetap tau bahwa itu tidak akan mengurangi rasa sayang Mama nya kepadanya. Ia tetap tau bahwa Mama nya akan selalu ada untuknya. Ia tetap tau bahwa Mama nya selalu sayang padanya. Ia tetap tau bahwa ini mama terbaik yang pernah dimiliki manusia di bumi ini. Mama terkuat dan Mama terbijak yang pernah ada untuk manusia di bumi ini. Sejauh apapun mereka, mereka tidak terpisahkan.

Si anak, hanya mengimajinasikan, bahwa ketika ia berada di samping mamanya di hari ulang tahun beliau, ia dapat memberikan ciuman selamat pagi termanis untuk mamanya. Memberikan ciuman di bagian ketiak dan perut. Dan sepotong upil kecil sebagai pemanis, sambil mengatakan, "Selamat ulang tahun amabum ucuuuk, tetep sayang ibum yoo, wajib. Sayang samo yang lain noo ditit ae", dengan gaya pengucapan anak kecil yang cadel. Banyak doa yang mau ia katakan kepada mamanya, tapi ia tidak akan mau menghilangkan momen kekanakan bersama mamanya dan mengganti nya menjadi momen dewasa dengan kalimat-kalimat pengucapan klise ala orang dewasa. Ia seorang anak, anak perempuan kecil untuk mamanya. Dan begitulah seharusnya. Ntah sampai kapan, yang jelas ia tetap mau menjadi anak gadis kecil mamanya. "Ibum cayang ama, ama ucuk"
0 Responses

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar, tapi yang sopan yaa, makasih :)